Pengenalan Alat Ukur (Multimeter Analog)

Sebelum Saya mulai ke materi ini, Saya akan menjelaskan apa itu Alat Ukur.

        Alat ukur merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui nilai suatu besaran atau kondisi dari suatu benda (objek) yang diukur. Dengan kata lain, alat ukur merupakan alat yang digunakan untuk menentukan nilai presisi suatu benda atau komponen yang diukur untuk mendapatkan nilai kuantitas dari sebuah benda. Beberapa jenis alat ukur sebagai berikut:
1. Multimeter (Analog & Digital).
2. Optical Time Domain Reflectometer (OTDR).
3. Optical Power Meter (OPM).
4. Visual Fault Locator.

Sekarang Saya akan lanjut kemateri kita hari ini, yaitu Multimeter Analog.

Penjelasan

Multimeter Analog adalah alat ukur listrik yang menampilkan hasil pengukuran menggunakan jarum penunjuk di atas skala meter. Meskipun kini banyak orang beralih ke versi digital, multimeter analog tetap populer karena keandalannya dalam mendeteksi perubahan nilai secara visual dan real time. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan Multimeter Analog: 
1. Memeriksa Kondisi Baterai Remote TV atau AC, 
2. Mengetahui Stop Kontak Berfungsi atau Tidak.
3. Memeriksa Kabel Charger yang Tidak Mengisi.



Bagian-Bagian Multimeter Analog

1. Kotak meter (Meter Cover)

Kotak meter (Meter Cover) merupakan cangkang / bodi multimeter. Kotak ini berfungsi sebagai tempat komponen-komponen multimeter. Kotak meter ini umumnya terbuat dari bahan plastik. Pada beberapa model multimeter, kotak meter ini ada yang terbungkus dengan bahan karet untuk mencegah slip dan licin saat digunakan.


2. Skala

Skala berfungsi sebagai skala nilai pembacaan meter. Pada papan skala terdapat nilai-nilai pembacaan untuk masing-masing skala nilai pengukuran, seperti misalnya untuk nilai pengukuran tahanan, nilai pengukuran tegangan AC, nilai pengukuran tegangan DC, atau untuk nilai pengukuran arus listrik.


3. Jarum penunjuk meter (Knife-edge Pointer)

Jarum penunjuk meter (Knife-edge Pointer) ini berfungsi sebagai penunjuk besaran nilai yang diukur. Pada multimeter analog, kerap ditambahkan sebuah cermin pada papan skala agar pembacaan pada jarum penunjuk meter ini menjadi lebih akurat.


4. Zero Adjusting Screw

Zero Adjusting Screw atau sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk adalah komponen multimeter analog yang berfungsi untuk mengatur posisi jarum penunjuk dengan cara memutar sekrupnya ke kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng pipih kecil. Tujuannya adalah agar didapat posisi yang tepat antara nilai 0 pada skala dengan posisi jarum.


5. Zero OHM Adjusting Knob

Zero OHM Adjusting Knob adalah tombol pengatur kedudukan dan posisi jarum penunjuk pada posisi nol untuk pengukuran ohm. Tombol pemutar ini digunakan saat melakukan pengukuran nilai ohm pada resistansi (tahanan), yaitu dengan cara menghubungkan kedua test lead + (merah) yang dihubungkan ke test lead - (hitam) dan memutar tombol pengatur ke kanan atau ke kiri agar posisi jarum tepat berada di posisi nol.


6. Lubang Kutub Positif +

Lubang kutub positif (+) ini adalah tempat untuk memasang test lead positif (+), yaitu kabel probe yang berwarna merah


7. Saklar Pemilih (Range Selector Switch)

Saklar pemilih (Range Selector Switch) adalah komponen multimeter yang berfungsi untuk memilih macam atau tingkat pengukuran sesuai dengan kebutuhan saat pengukuran. Biasanya, setiap multimeter memiliki empat posisi pilihan pengukuran serta satu posisi untuk mematikan (OFF) multimeter tersebut.

Untuk memilihnya, silahkan putar saklar pemilih ke kanan atau ke kiri, lalu posisikan saklar pada macam dan tingkat pengukuran yang dibutuhkan.
Berikut posisi pengukuran yang umum tersedia pada multimeter analog:

  • Posisi Ohm. Pada posisi ini berarti multimeter berfungsi sebagai alat untuk mengukur nilai tahanan (ohmmeter), yang terdiri dari tiga batas ukur : x1; x10; x100; dan 1K ohm.
  • Posisi ACV (Volt AC). Pada posisi ini berarti multimeter berfungsi sebagai alat untuk mengukur tegangan AC (voltmeter AC) yang terdiri dari empat batas ukur : 10; 50; 250; dan 500 volt.
  • Posisi DCV (Volt DC). Pada posisi ini berarti multimeter berfungsi sebagai alat untuk mengukur tegangan DC (voltmeter DC) yang terdiri dari tujuh batas ukur : 0,25; 2,5; 5; 10; 50; 100; dan 500.
  • Posisi DCmA (miliampere DC). Pada posisi ini berarti multimeter berfungsi sebagai alat pengukur arus DC dengan satuan mili ampere (mili amperemeter DC) yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 2,5 mA.


8. Lubang Kutub Negatif (-)

Lubang kutub negatif (-) ini adalah tempat untuk memasang test lead negatif (-), yaitu kabel probe yang berwarna hitam.


9.Test Lead Negatif (-)

Test lead negatif (-) adalah kabel probe multimeter berwarna hitam yang mengindikasikan posisi negatif (-). Pada bagian ujungnya dipasangkan ke lubang kutub negatif (-) multimeter. Test lead negatif (-) digunakan untuk pengukuran pada benda kerja.


10. Test Lead Positif (+)

Test lead positif (+) adalah kabel probe multimeter berwarna merah yang mengindikasikan posisi positif (+). Pada bagian ujungnya dipasangkan ke lubang kutub positif (+) multimeter. Test lead positif (+) juga digunakan untuk melakukan pengukuran pada benda kerja.



Cara Menggunakan Multimeter Analog

1. Atur Multimeter untuk Menguji Arus AC atau DC.
2. Pilih Rentang yang Tepat pada Dial Pengujian.
3. Colokkan Probe ke Port Multimeter.
4. Sentuhkan Ujung Probe ke Perangkat yang Diuji.
5. Periksa Meteran dan Sesuaikan Untuk Mendapatkan Hasil yang Akurat.
6. Cabut Probe Multimeter Setelah Selesai Digunakan.

Hal yang Dihindari Saat Menggunakan Multimeter Analog

1. Menjatuhkan Alat Multimeter.
2. Membebani Alat dengan Rentang yang Berlebihan.
3. Periksa Pengaturan Sebelum Menghubungkan Multimeter.
4. Jangan Mengubah Pengaturan Alat Saat Probe Terhubung.



Kelebihan Dan Kekurangan Multimeter Analog

Kelebihan :
  1. Fungsi dasar multimeter analog memberikan gerakan terus-menerus saat mengukur besaran listrik (seperti tegangan arus , resistansi, dan masih banyak lagi).
  2. Untuk pengukuran arus dan tegangan , meter ini tidak memerlukan sumber daya eksternal (misalnya sel atau baterai ) untuk melakukan pengukuran.
  3. Memiliki kemampuan untuk menampilkan perubahan yang tiba-tiba (atau lambat) dengan mudah.
  4. Biaya multimeter analog lebih rendah dibandingkan dengan multimeter digital.
  5. Multimeter analog tidak rentan terhadap gangguan sinyal.
Kekurangan :
  1. Jenis meteran ini tidak memberikan akurasi pengukuran yang tinggi dibandingkan meteran digital.
  2. Pada meter ini, terdapat komponen yang bergerak. Jadi, seiring waktu, karena keausan, pengguna mungkin mendapatkan hasil pembacaan yang salah.
  3. Meter analog ini memerlukan perawatan lebih lanjut.
  4. Fungsi penyimpanan data tidak tersedia dalam multimeter analog.
  5. Tidak memberikan kalibrasi otomatis seperti multimeter digital.
  6. Tidak memiliki fungsi polaritas otomatis. Jadi, pengguna memerlukan kabel uji dan probe untuk mendeteksi polaritas.

Komentar